Berita UtamaKendariWisata

Sorotan Praktisi Terhadap Pariwisata Kendari yang Belum Berkelanjutan

425
×

Sorotan Praktisi Terhadap Pariwisata Kendari yang Belum Berkelanjutan

Sebarkan artikel ini
Sorotan Praktisi Terhadap Pariwisata Kendari yang Belum Berkelanjutan
Sorotan Praktisi Terhadap Pariwisata Kendari yang Belum Berkelanjutan

KENDARI, TEGAS.CO – 10 November 2025 โ€” Upaya Pemerintah Kota Kendari untuk kembali menghidupkan sektor pariwisata, terutama di kawasan Pantai Nambo, dinilai oleh para praktisi belum menyentuh aspek keberlanjutan (sustainable tourism) yang sesungguhnya.

Meskipun berbagai event dan promosi telah gencar dilakukan, langkah-langkah ini dianggap masih bersifat seremonial dan belum menyentuh akar persoalan daya tarik wisata.

Praktisi pariwisata terkemuka di Sulawesi Tenggara, Ahmad Nizar, mengungkapkan bahwa persaingan dalam daya tarik wisata saat ini sangat tinggi.

Ia menekankan bahwa inovasi di Pantai Nambo seharusnya tidak fokus pada hal-hal seremonial atau momentum sesaat, melainkan pada inovasi atraksi dan diversifikasi produk wisata itu sendiri.

Nizar secara tegas mengkritik program baru dari Dinas Pariwisata Kota Kendari yang menggratiskan fasilitas pendukung di Pantai Nambo, sementara hanya mengenakan retribusi masuk untuk orang dan kendaraan.

Tonton video tiktok tegas.co di bawah ini ๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘‡๐Ÿ‘

“Pantai Nambo itu kan aset daerah, pembangunannya menggunakan APBD sehingga kalau sampai kata gratis menjadi sebuah inovasi untuk menarik angka kunjungan, saya rasa itu kurang tepat,” ujar Nizar.

Menurutnya, kawasan tersebut membutuhkan pemeliharaan dan pengembangan. Dana untuk ini harus berasal dari retribusi masuk dan fasilitas.

Ia menyarankan agar Pemerintah, khususnya Dinas Pariwisata, merumuskan inovasi atraksi dan diversifikasi produk.

Salah satu masalah mendasar yang harus dicarikan solusi berkelanjutan adalah persoalan air lautnya yang sering cokelat.

Nizar, peraih penghargaan Pariwisata Nasional FHN 2025 di Bali, menyoroti tugas pengelola kawasan wisata adalah bagaimana mengajak wisatawan untuk datang berulang kali ke tempat yang sama.

Inovasi dan diversifikasi produk bertujuan membuat orang datang kembali dalam tenggang waktu yang berbeda.

Ia mempertanyakan, “jika saya seorang wisatawan sudah 2 atau 3 kali ke Pantai Nambo, terus apa alasan saya untuk kembali dengan suasana dan daya tarik yang sama?”.

Kurangnya daya tarik yang berkelanjutan akan membuat wisatawan cenderung mencari kawasan wisata baru yang tidak memakan waktu dan biaya besar.

Nizar mendesak pemerintah untuk berpikir lebih holistik. Pariwisata, katanya, bukan sekadar membangun gazebo atau panggung hiburan, melainkan tentang menciptakan sistem yang mendukung semua pihak di dalamnya.

Beberapa potensi yang dapat dikembangkan di Pantai Nambo, menurut Nizar, antara lain Wisata Edukasi. Penciptaan kawasan wisata pendukung dengan memanfaatkan sisa lahan atau infrastruktur yang sudah ada.

Menghidupkan nuansa Kampung Wisata dan melibatkan Pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) untuk mewujudkan konsep pemberdayaan masyarakat sekitar.

Jika masyarakat dilibatkan sebagai motor penggerak, baik sebagai pemandu maupun pelaku atraksi wisata, konsep ini akan lebih kuat dalam mencapai Asas Sustainable Tourism atau Pariwisata Berkelanjutan.

“Jika hanya mau mengandalkan jualan pantai, itu berat dalam persaingan industri pariwisata saat ini,” tegas Nizar.

Untuk menjadi kota wisata yang berkelanjutan, Kendari tidak bisa hanya mengandalkan potensi pantai seperti Nambo.

Dibutuhkan perubahan paradigma dan diversifikasi atraksi wisata yang memadukan unsur budaya, kuliner, edukasi, dan ekowisata.

Visi “Nambo Culture and Nature Park”
Nizar, yang juga merupakan peraih penghargaan Tokoh Penggerak Desa Wisata Sultra 2025 dan seorang Master Trainer Kepariwisataan level IV, berpesan agar Pantai Nambo tidak hanya dijual sebagai pantai.

Sebaliknya, ia harus dikembangkan sebagai kawasan wisata tematik yang memiliki beragam atraksi. Ia mengusulkan pengembangan โ€œNambo Culture and Nature Parkโ€ yang menggabungkan wisata alam, seni budaya, dan edukasi, dengan melibatkan komunitas lokal dalam pengelolaannya.

PUBLISHER: MAS’UD