
Oleh: MAS’UD, SH. C.M.L.C (MAHASISWA PASCASARJANA ILMU-ILMU HUKUM)
Di tengah riuh rendah polemik yang belakangan menyelimuti yayasan pendidikan Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra), sebuah kekhawatiran menyeruak dari mereka yang pernah ditempa di rahim almamater tersebut.
Bukan sekadar soal pasal-pasal hukum yang berbenturan, melainkan tentang nasib ribuan mahasiswa yang kini tengah menuntut ilmu.
H. Suwandi Andi, S.Sos., salah seorang alumni yang masih merawat kecintaannya pada kampus itu, akhirnya angkat bicara.
Baginya, Unsultra bukan sekadar gedung dan administrasi, melainkan rumah intelektual yang harus dijaga marwahnya.
Menanggapi adu argumen yang kian tajam di ruang publik terkait legalitas yayasan, Suwandi memilih sudut pandang yang lebih jernih.
Ia tak ingin terjebak dalam silang sengketa yang bising. “Adu argumentasi dan kepastian hukum, biarlah hukum yang bicara,” ujarnya dengan nada tenang namun tegas.
Baginya, ranah perdata adalah panggung bagi para pihak yang bersengketa untuk membuktikan kebenaran di mata pengadilan, bukan menjadi konsumsi yang justru memperkeruh suasana akademik.
Proses hukum memiliki jalannya sendiri, sunyi namun pasti, menunggu pembuktian para pihak terkait.
Namun, di balik penyerahan diri pada proses hukum itu, terselip satu harapan besar, sebuah pesan moral dari para alumni.
Suwandi menegaskan, kekisruhan di tingkat elit yayasan tidak boleh, sedikit pun, merembes ke ruang-ruang kelas.
Denyut nadi civitas akademika tidak boleh terganggu oleh ambisi atau sengketa para petinggi.
“Harapan kita, kekisruhan ini tidak berimbas pada proses Civitas Akademika Unsultra,” tambahnya.
Pernyataan ini bukan sekadar imbauan, melainkan sebuah peringatan halus.
Para alumni kini tengah mengamati dari dekat. Jika kemelut ini tak kunjung menemukan ujung, atau lebih buruk lagi, mulai mengorbankan kenyamanan belajar mengajar, maka barisan alumni tidak akan tinggal diam.
“Jika implikasi dari konflik ini tidak berujung, maka kami, Alumni, akan meminta pertanggungjawaban atas konflik dimaksud,” pungkas Suwandi.
Sebuah ultimatum telah diletakkan. Di Universitas Sulawesi Tenggara, para alumni kini berdiri sebagai penjaga gerbang, memastikan bahwa di tengah badai yayasan, pelita pendidikan harus tetap menyala terang.