
TEGAS.CO., KENDARI — Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar seminar edukatif bertajuk “Adab Literasi Media dari Perspektif Islam Menuju Generasi Emas Indonesia”, Kamis (23/1/2026).
Kegiatan ini berlangsung di Bahtiar, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO), Kendari.
Seminar ini menjadi kegiatan terakhir MUI Sultra sebelum pelaksanaan Musyawarah Wilayah untuk pemilihan ketua MUI yang baru.
Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Komisi Bidang Seni dan Budaya MUI Sultra sebagai bentuk kontribusi terhadap penguatan literasi digital di kalangan mahasiswa.
Ketua Komisi Seni dan Budaya MUI Sultra, Prof. Dr. M. Najib Husain, M.Si, mengatakan seminar ini difokuskan pada upaya memberikan pemahaman literasi media yang sehat dan beradab sesuai nilai-nilai Islam.
“Kita memang fokus bagaimana memberikan literasi digital kepada mahasiswa agar mereka bisa menggunakan internet dengan sehat, baik, dan sesuai dengan adab yang benar,” ujar Prof. Najib dalam wawancara usai kegiatan.
Menurutnya, tema literasi media dipilih karena adanya kecenderungan generasi muda saat ini yang belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi digital secara tepat.

“Kita melihat generasi muda sekarang kadang menggunakan handphone bukan untuk fungsi yang benar dan tepat, bahkan sering disalahgunakan. Melalui seminar edukasi ini, kita ingin memberikan pemahaman bagaimana memanfaatkan teknologi dengan baik,” jelasnya.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi dan praktisi, di antaranya dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Halu Oleo.
Para pemateri membahas berbagai isu strategis, mulai dari literasi media digital, demokrasi di era digital, hingga peran media sosial dalam ruang publik.
Prof. Najib menekankan bahwa tantangan utama literasi media saat ini adalah lemahnya sikap kritis generasi muda terhadap konten digital.
“Mereka sering hanya menerima informasi tanpa mengkritisi. Dalam Islam dikenal konsep tabayyun, yaitu memverifikasi dan mengklarifikasi informasi sebelum mempercayai dan menyebarkannya. Ini bagian penting dari adab literasi media,” tegasnya.
Ia berharap, melalui kegiatan ini mahasiswa mampu menggunakan teknologi digital untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan diri, serta mampu memilah informasi, termasuk membedakan berita hoaks dan fakta.
Dalam seminar tersebut juga dibahas peran media sosial sebagai salah satu pilar demokrasi di era digital. Media sosial dinilai telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan opini yang kini mulai diserap oleh para pemimpin.
MUI Sultra menegaskan bahwa demokrasi yang berkualitas hanya dapat terwujud jika masyarakat memiliki akses dan kemampuan mengolah informasi yang berkualitas.
Penulis : Amran solasi







Komentar