Baubau Dorong Hilirisasi Jambu Mete, Investasi Pabrik Jadi Peluang Baru

Baubau Dorong Hilirisasi Jambu Mete, Investasi Pabrik Jadi Peluang Baru
Baubau Dorong Hilirisasi Jambu Mete, Investasi Pabrik Jadi Peluang Baru

TEGAS.CO, BAUBAU – Pemerintah Kota Baubau mendorong hilirisasi jambu mete seiring penjajakan investasi pembangunan pabrik pengolahan oleh perusahaan perdagangan global asal Rotterdam, Belanda, Cornhouse B.V.

Wakil Wali Kota Baubau Ir. Wa Ode Hamsinah Bolu, M.Sc mengatakan, rencana pembangunan industri pengolahan jambu mete menjadi peluang untuk menghidupkan kembali mata rantai ekonomi komoditas tersebut, mulai dari petani hingga pelaku usaha lokal dan UMKM.

Peluang investasi itu mengemuka setelah Cornhouse B.V. menjajaki potensi mete di Sulawesi Tenggara sebagai bagian dari studi kelayakan pembangunan pabrik dengan kapasitas hingga 30 ribu ton bahan baku per tahun.

Bagi Pemkot Baubau, pengembangan industri mete tidak dapat hanya dilihat dari ketersediaan bahan baku di dalam kota. Potensi pasokan juga dapat dikembangkan dalam skala kawasan, mencakup Kabupaten Muna, Buton, Buton Selatan hingga Buton Tengah.

Kondisi tersebut dinilai dapat memperkuat posisi Baubau sebagai pusat perdagangan dan jasa di kawasan Kepulauan Buton sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya industri pengolahan berbasis komoditas perkebunan.

Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim sebelumnya menyatakan Pemkot siap memberikan dukungan terhadap rencana investasi tersebut, termasuk membantu mencarikan lahan apabila proses penjajakan berlanjut ke tahap pembangunan.

Menurut Yusran, jambu mete bukan komoditas baru bagi Baubau dan wilayah sekitarnya. Pada era 1980-an, komoditas tersebut pernah berkembang cukup besar. Namun, perkembangannya kemudian meredup, salah satunya karena belum adanya pengusaha yang mampu mengembangkan mata rantai usaha secara berkelanjutan.

Karena itu, kehadiran investor dinilai dapat menjadi momentum untuk membangun kembali ekosistem jambu mete, dengan mempertemukan petani, industri pengolahan, pelaku UMKM dan pasar.

Di sektor hulu, pemerintah juga masih menghadapi sejumlah tantangan. Kementerian Pertanian menilai potensi jambu mete di Baubau masih perlu diperkuat, terutama karena terdapat persoalan penyakit dan kerentanan tanaman yang perlu diperiksa secara teknis di lapangan.

Sementara itu, Cornhouse tengah memetakan kualitas dan keberlanjutan pasokan mete dari sejumlah wilayah di Sulawesi Tenggara. Pemetaan mencakup Baubau, Muna, Buton hingga Kendari.

Jika pasokan bahan baku dari Sulawesi Tenggara belum mencukupi kebutuhan industri, perusahaan membuka kemungkinan mendatangkan mete dari daerah lain, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah hingga Flores.

Cornhouse memproyeksikan harga pembelian mete mentah dari petani lokal dapat mencapai Rp35 ribu per kilogram. Dengan adanya industri pengolahan di daerah, rantai pasok diharapkan dapat menjadi lebih pendek sekaligus membuka peluang peningkatan nilai ekonomi bagi petani.

Namun, hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan pabrik. Pengembangan industri juga membutuhkan keterlibatan pelaku usaha lokal agar manfaat investasi dapat dirasakan lebih luas.

Bagi Baubau, rencana tersebut menjadi peluang untuk mengembangkan kembali jambu mete sebagai komoditas strategis kawasan, dengan membangun keterhubungan antara petani sebagai pemasok bahan baku, industri sebagai pengolah, serta UMKM dan tenaga kerja lokal sebagai bagian dari rantai nilai ekonomi.

Dengan posisi Baubau sebagai salah satu simpul perdagangan di kawasan Kepulauan Buton, pengembangan industri pengolahan jambu mete diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai tambah komoditas, tetapi juga membuka lapangan kerja dan memperluas peluang usaha masyarakat.

JSR

Komentar