Kementan dan Utusan Presiden Dorong Baubau Jadi Basis Industri Jambu Mete

Kementan dan Utusan Presiden Dorong Baubau Jadi Basis Industri Jambu Mete
Kementan dan Utusan Presiden Dorong Baubau Jadi Basis Industri Jambu Mete

BAUBAU, TEGAS.CO – Pemerintah pusat melihat potensi pengembangan industri jambu mete di Kota Baubau sebagai peluang untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, menciptakan lapangan kerja, sekaligus memperkuat posisi daerah sebagai hub maritim di Sulawesi Tenggara.

Hal itu mengemuka dalam kunjungan Kementerian Pertanian bersama Cornhouse B.V., perusahaan perdagangan global asal Rotterdam, Belanda, ke Kota Baubau untuk melihat potensi tanaman jambu mete sekaligus menjajaki rencana investasi pembangunan pabrik pengolahan dan pengembangan perkebunan mete.

Asisten Urusan Khusus Presiden Bidang UMKM dan Ekonomi Kreatif, Wahyu Adrianto, mengatakan, pengembangan industri mete dapat menjadi bagian dari penguatan kewirausahaan daerah karena memiliki potensi menyerap tenaga kerja dan menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

Menurut Wahyu, hasil kunjungan tersebut juga akan menjadi bahan laporan kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai potensi pertanian yang dimiliki Kota Baubau.

“Industri mete ini sebagai bagian wirausaha yang akan menyerap tenaga kerja dan bahan laporan yang akan kami sampaikan kepada Presiden Prabowo tentang potensi pertanian yang dimiliki Kota Baubau sebagai daerah hub maritim di Sultra,” kata Wahyu.

Ia menilai Baubau memiliki posisi strategis untuk mengembangkan industri pengolahan jambu mete dalam skala besar. Selain memiliki sejarah sebagai salah satu daerah penghasil mete, Baubau juga berada pada jalur perdagangan kawasan Kepulauan Buton.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka peluang bagi Baubau untuk tidak hanya menjadi daerah perdagangan komoditas mentah, tetapi berkembang menjadi salah satu pusat industri pengolahan mete di Indonesia.

Penjajakan tersebut dilakukan bersama Kementerian Pertanian, salah satunya melalui Sulkani, SE., M.Si., Ketua Tim Kerja Pengembangan Kawasan Tanaman Tahunan Lain.

Dari sisi pengembangan komoditas, Kementerian Pertanian melihat jambu mete memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut, termasuk melalui hilirisasi dan pengembangan produk turunannya.

Namun, pengembangan industri tetap membutuhkan penguatan sektor hulu. Persoalan penyakit serta kerentanan tanaman menjadi salah satu aspek yang perlu diperiksa secara teknis untuk memastikan keberlanjutan produksi.

Sementara itu, Cornhouse B.V. tengah melakukan studi kelayakan terhadap potensi dan keberlanjutan pasokan jambu mete di Sulawesi Tenggara.

Pemetaan pasokan mencakup sejumlah daerah, antara lain Baubau, Muna, Buton hingga Kendari. Perusahaan tersebut juga membuka kemungkinan memperoleh bahan baku dari wilayah lain seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah hingga Flores apabila pasokan Sulawesi Tenggara belum mencukupi.

Cornhouse menjajaki pembangunan pabrik dengan kapasitas hingga 30 ribu ton bahan baku per tahun. Kehadiran industri tersebut diharapkan dapat memperpendek mata rantai perdagangan komoditas mete sekaligus meningkatkan nilai tambah yang diterima petani.

Perusahaan juga memproyeksikan harga pembelian mete mentah dari petani lokal dapat mencapai Rp35 ribu per kilogram.

Bagi pemerintah pusat, pengembangan industri mete tidak hanya berkaitan dengan masuknya investasi. Ekosistem usaha juga perlu dibangun dengan melibatkan petani, UMKM, tenaga kerja lokal serta pelaku usaha daerah.

Wahyu menilai keterlibatan masyarakat lokal menjadi penting agar investasi tidak berhenti pada aktivitas produksi, tetapi mampu menciptakan ruang kewirausahaan dan lapangan kerja baru.

Dengan dukungan investasi, penguatan sektor hulu dan keterlibatan pelaku usaha lokal, Baubau dinilai memiliki peluang untuk mengembangkan jambu mete sebagai komoditas strategis kawasan sekaligus memperkuat perannya sebagai hub perdagangan dan maritim di Sulawesi Tenggara.

Rencana pembangunan pabrik Cornhouse saat ini masih berada dalam tahap penjajakan dan studi kelayakan. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah akan melihat lebih lanjut kesiapan bahan baku, aspek teknis perkebunan, kebutuhan investasi serta ekosistem usaha yang diperlukan untuk mendukung pengembangan industri tersebut.

JSR

Komentar