oleh

Varian Omicron,  Tambal Sulam Penanganan Wabah

-Opini-465 Dilihat
Irda Yanti Isro (Pemerhati Sosial)

TEGAS.CO.,NUSANTARA – Di penghujung tahun 2021, dunia kembali dibuat gempar dengan munculnya varian Omicron yang merupakan mutasi Covid-19. Dimana Afrika Selatan Adalah negara pertama yang melaporkan adanya kasus dari varian tersebut.

Kini virus itu sudah menyebar ke berbagai belahan negara, termaksud di Nusantara. Seperti yang dikutip dari Kompas.Com (17 Desember 2021), Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengumumkan satu kasus positif Covid-19 akibat penularan varian B.1.1.529 atau varian Omicron.

Varian Omicron di Indonesia, teridentifikasi pada petugas kebersihan di Rumah Sakit (RS) Wisma Atlet.

Tentu ini menjadi kekhawatiran banyak orang. Apalagi varian baru ini punya daya sebar yang lebih masif dibanding dengan varian sebelumnya.  Menurut laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dalam rentang waktu 3 hari saja kasus varian Omicron telah meningkat dua kali lipat.

Sehingga, saat ini sudah ada sebanyak 89 negara yang melaporkan adanya varian baru Covid-19 ini (www.cnbcindonesia.com/19/12/2021). Sementara itu,  dikutip dari CNBC International (12/12/2021), Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan bahwa fitur tertentu dari  Omicron termaksud sejumlah besar mutasi bisa mengubah arah pandemi yang kini telah menjadi krisis global.

Munculnya varian baru ini sebenarnya merupakan bukti ke sekian gagalnya sistem kapitalisme global yang hari ini eksis. Solusi guna mengendalikan dan menangani pandemi hanyalah tambal sulam belaka.

Bahkan terkesan menomorduakan nilai kemanusiaan dan keselamatan nyawa.  Nilai materi yang mendominasi dan motif ekonomi menjadi tujuan utama, sebagaimana ciri khas penanganan semua rezim global didunia sebagaimana arahan WHO.

Sejak awal pola komunikasi sains yang bermasalah hingga data kasus Covid yang saling sengkarut sampai data yang tidak sinkron antara daerah dan pusat. Ditambah lagi, kesan tidak serius dalam menerapkan rangkaian pengendalian pandemi diantaranya penanganan berbasis 3T (test,  trace, treat) juga 2M (mengurangi mobilitas, menghindari kerumunan).

Sayangnya kebijakan yang dibuat justru memicu adanya peningkatan mobilitas masyarakat. Belum lagi masalah vaksin pun menjadi perdebatan soal keamanan dan kehalalannya hingga terkesan menjadi ajang bisnis para kapitalis global.

Kebijakan lockdown seharusnya serius dilakukan sejak awal.  Kebijakan lockdown ini terbukti efektif menekan laju penyebaran covid19 sehingga mencegah adanya mutasi virus. Menutup akses darat,  laut dan udara. Juga melakukan karantina wilayah.

Kebijakan lockdown atau karantina wilayah selain mengikuti perintah Baginda Nabi saw. juga tindakan ini secara sains juga paling efektif mencegah penyebaran virus di samping terus mengupayakan hal-hal lainnya. Tidak boleh ada solusi yang malah menguntungkan segelintir pemilik modal dan menjadi ladang bisnis, akhirnya rakyat kembali menjadi korban.

Memang, potret penguasa yang amanah dan maksimal mengurusi rakyat akan sulit ditemui dalam sistem kapitalisme, karena kapitalisme tak pernah menjadikan kemaslahatan seluruh rakyat sebagai pertimbangan. Yang ada adalah kemaslahatan para pemilik modal.

Pemimpin yang amanah hanya akan terbentuk dalam sistem yang amanah pula yakni sistem Islam. Oleh karena itu mewujudkan sistem Islam adalah kebutuhan yang tidak boleh ditunda atau bahkan dihalangi serta dikriminalkan. Umat butuh berjuang bersama mewujudkan sistem Islam yang akan menjadi metode penerapan Islam Kaffah, menuju Islam rahmatan lil alamin.

Wallahu A’lam.

 

Penulis: Irda Yanti Isro (Pemerhati Sosial)

Editor: H5P

 

 

Komentar

DMCA.com Protection Status