oleh

Sibuk Kontestasi, Rezim Tak Punya Empati

Sibuk Kontestasi, Rezim Tak Punya Empati. gambar ilustrasi

TEGAS.CO,. NUSANTARA – Sudah sekian kalinya, pemerintah menaikkan harga BBM. Perhari sabtu, 3 September 2022 harga Pertalite menjadi Rp 10.000 per liter, Solar subsidi Rp 6.800 per liter, dan Pertamax Rp 14.500 per liter. (www.kompas.com, 3/9/2022) Subhanallah, di tengah himpitan hidup yang serba mahal, kini beban rakyat di tambah dengan kenaikan harga BBM. Kenaikan ini akan bertampak pada kebutuhan hidup yang turut naik pula harganya.

Rakyat yang terbebani dengan kehidupan yang sempit, harus pula melihat kesibukan penguasa mencari dukungan untuk berkuasa lagi.

Esok harinya, minggu 4 September 2022, ketua DPR Puan Maharani mengunjungi kediaman Prabowo Subianto dalam rangka safari politik. Pertemuan ini membicarakan tentang peluang keduanya dipasangkan sebagai capres-cawapres di pemilu 2024. (www.cnnindonesia.com, 5/9/2022)

Rezim Tak Punya Empati

Kepeduliaan terhadap rakyat adalah kewajiban bagi penguasa. Mengapa empati hilang saat rakyat membutuhkan atau memang tak ada rasa empati itu?

Dampak domino dari kenaikan BBM akan semakin menghimpit kehidupan rakyat. Kesulitan demi kesulitan akan menimpa rakyat yang semakin tercekik. Harga-harga kebutuhan hidup yang melambung, menjadikan rakyat sengsara kelimpungan.

Suara rakyat yang dikatakan suara Tuhan seakan hanya semboyan semata. Tak ada penguasa yang berjuang menuntut suaranya yang menjerit menderita. Rezim malah membebani rakyat di kala negara mengalami kesulitan. Saat pemilu rakyat baru diperhatikan.

Ini kenyataan demokrasi. Siapa yang ingin berkuasa ia akan sibuk berkontestasi. Mencari dukungan sana-sini. Agar kemenangan sebagai penguasa dapat dimiliki.

Rezim yang tengah berkuasa, sibuk jadi pengurus partai bukan pengurus rakyat. Sungguh menyakiti hati rakyat terus-terusan. Saat harga kebutuhan dinaiki, rakyat dipaksa memaklumi kondisi. Kemana mereka saat ini? Diam tidak berjuang menjadi kepanjangan suara rakyat, malah sibuk kontestasi.

Inilah kenyataan demokrasi. Penguasa menjadi tak punya empati. Tidak peduli jeritan rakyat yang tersakiti. Hanya pedulikan bagaimana caranya berkuasa kembali.

Islam Jadikan Penguasa Berempati Tinggi

“Setiap orang adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya. Seorang kepala negara akan diminta pertanggungjawaban perihal rakyat yang dipimpinnya. (HR. Bukhori dan Muslim)

Keimanan menjadi landasan pokok dalam kehidupan seorang muslim. Setiap muslim pasti harus menyadari bahwa semua akan dimintai pertanggungjawaban dan akan ada balasan atas kepemimpinannya di akhirat kelak.

“Sesungguhnya kepemimpinan merupakan sebuah amanah, di mana kelak di hari kiamat akan mengakibatkan kerugian dan penyesalan. Kecuali mereka yang melaksanakannya dengan cara baik, serta dapat menjalankan amanahnya sebagai pemimpin.” (HR. Muslim)

Siapapun yang menyadari ada Allah Swt yang selalu mengawasi, pasti akan sungguh-sungguh dalam memimpin. Bekerja bukan untuk kepuasaan duniawi, tapi untuk Allah Swt dengan amanahnya yang berat.

Keimanan yang kuat pada Allah Swt yang membuat para Khalifah memimpin dengan kesadaran penuh tanggung jawab pada Allah Swt. Khalifah Umar bin Khattab begitu peduli pada rakyatnya. Khalifah Umar bahkan rela memikul karung gandum untuk diberikan pada rakyatnya yang kelaparan.

Kepemimpinan Khalifah dalam Khilafah mampu melahirkan pemimpin yang berempati pada umat. Karena kepemimpinan mereka bukan hanya bertanggung jawab pada rakyat tapi juga kepada Allah Swt. Sehingga mereka akan utamakan kesejahteraan umat, karena menyadari Allah Swt akan menanyai kepemimpinannya.

Kini, kita pahami bahwa kehidupan dalam sistem demokrasi telah membuat hidup sulit dan tersakiti. Sudah saatnya kita kembali pada Allah Swt dengan aturan-Nya. Menerapkan hukum Allah Swt dalam kepemimpinan Khilafah.

Wallahu a’lam bish-Shawwab

Penulis: Yeni Marpurwaningsih, S.Hum. (Pegiat Literasi)

Publisher: Yusrif Aryansyah

Iklan Dishub Sultra

Komentar